ORGANOMETALIC
Reaksi Adisi Organometalic Pada Senyawa
Karbonil
A.
Senyawa
Organologam
Cabang ilmu kimia
yang mempelajari tentang ikatan antara senyawa organic (mengandung atom Carbon)
dan anorganik (logam) yaitu organologam. Organologam sangat erat kaitannya
dengan logam-logam yang terikat dengan Carbon. Tetapi perlu diketahui bahwa
senyawa organologam sangat kompleks susunannya. Senyawa organologam merupakan senyawa
yang terbentuk dari atom logam dan gugus organik dimana atom-atom karbon dari
gugus organiknya terikat pada atom logam. Sifat senyawa organologam yang umum
ialah atom karbon yang lebih elektronegatif daripada kebanyakan logamnya.
Senyawa kompleks logam (biasanya logam-logam transisi) merupakan senyawa yang
memiliki satu atau lebih ikatan logam-karbon. Senyawa ini terdiri dari atom pusat
dan ligan (Blaser et al , 2000).
Reaksi yang terjadi
pada senyawa organologam bisa dibilang sangat kompleks Karena melibatkan
reaksi-reaksi ligan organik dan bagaimana ligan tersebut berikatan dengan atom
logam. Aplikasi senyawa organologam yang mungkin paling menonjol adalah sebagai
katalis. Sebagai contoh apabila kita memiliki senyawa organik A dan B, dimana
kita berkeinginan untuk menggabungkan rantai karbon milik A dan B. Agar kedua
senyawa tersebut dapat bergabung maka dibutuhkanlah suatu katalis organologam dimana dia akan
melakukan berbagai macam reaksi sampai senyawa A dan B bisa bergabung dan
katalis itu sendiri akan melepaskan diri.
Senyawa organologam
adalah senyawa di mana atom-atom karbon dari gugus organik terikat kepada atom
logam. Contoh, suatu aloksida seperti (C3H7O)4Ti
tidaklah dianggap sebagai suatu senyawa organologam karena gugus organiknya
terikat pada Ti melalui oksigen, sedangkan C6H5Ti(OC3H7)3 karena
terdapat satu ikatan langsung antara karbon C dari gugus fenil dengan logam
Ti.HH Istilah organologam biasanya didefenisikan agak longgar, dan senyawaan
dari unsur-unsur seperti Boron, fosfor, dan silikon semuanya mirip
logam. Tetapi untuk senyawa yang mengandung ikatan antara atom logam
dengan oksigen, belerang, nitrogen, ataupun dengan suatu halogen tidak termasuk
sebagai senyawa organologam. Dari bentuk ikatan pada senyawa organologam,
senyawa ini dapat dikatakan sebagai jembatan antara kimia organik dan
anorganik.
Sifat senyawa
organologam yang umum ialah atom karbon yang lebih elektronegatif daripada
kebanyakan logamnya. Senyawa komplek logam (biasanya logam-logam transisi)
merupakan senyawa yang memiliki satu atau lebih ikatan logam-karbon. Senyawa
organologam terdiri dari atom pusat dan ligan.
Terdapat beberapa
kecenderungan jenis-jenis ikatan yang terbentuk pada senyawaan organologam :
·
Senyawaan ionik dari logam elektropositif
Garam logam ion-ion karbon
yang kestabilannya diperkuat oleh delokalisasi elektron lebih stabil walaupun
masih relatif reaktif. Adapun contoh gugus organik dalam garam-garaman tersebut
seperti (C6H5)3C-Na+ dan
(C5H5)2Ca2+.
·
Senyawaan
yang memiliki ikatan -σ (sigma)
Senyawaan
organologam dimana sisa organiknya terikat pada suatu atom logam
dengan suatu ikatan yang digolongkan sebagai ikatan kovalen (walaupun masih ada
karakter-karakter ionik dari senyawaan ini) yang dibentuk oleh kebanyakan logam
dengan keelektropositifan yang relatif lebih rendah dari golongan pertama di
atas,
Pada dasarnya
Organologam prinsipnya yaitu atom-atom Karbon dari gugus organik terikat kepada
atom logam. Konsep ini yang mendasari Organologam, sehingga banyak cara untuk
menghasilkan ikatan-ikatan logam pada Carbon yang berguna bagi kedua logam
transisi dan non-transisi. Beberapa yang lebih penting adalah sebagai berikut :
1. Reaksi
Logam langsung ; sintesis yang paling awal oleh ahli kimia Inggris,
Frankland dalam tahun 1845 adalah interaksi antara Zn dan suatu alkil
Halida. Adapun yang lebih berguna adalah penemuan ahli kimia Perancis, Grignard
yang dikenal sebagai pereaksi Grignard. Contohnya interaksi Magnesium dan alkil
atau aril Halida dalam eter:
Mg
+ CH3I → CH3MgI
Interaksi
langsung alkil atau aril Halida juga terjadi dengan Li, Na, K, Ca, Zn dan Cd.
2. Penggunaan
zat pengalkilasi. Senyawa ini dimanfaatkan untuk membuat senyawa organologam
lainnya. Kebanyakan Halida nonlogam dan logam atau turunan Halida dapat
dialkilasi dalam eter atau pelarut hidrokarbon, misalnya :
PCl3 +
3C6H5MgCl → P(C6H5)3 +
3MgCl2
VOCl3 +
3(CH3)3SiCH2MgCl → VO(CH2SiMe3)3 +
3MgCl2
3. Interaksi
Hidrida Logam atau nonlogam dengan alkena atau alkuna.
4. Reaksi
Oksidatif adisi. Reaksi yang dikenal sebagai reaksi Oksa dimana Alkil atau Aril
Halida ditambahkan pada senyawa logam transisi Koordinasi tidak jenuh
menghasilkan ikatan logam Karbon. Contohnya:
RhCl(PPh3)3 +
CH3I → RhClI(CH3)(PPh3)2 + PPh3
Reaksi
Insersi yaitu reaksi yang menghasilkan ikatan-ikatan dengan Karbon, sebagai
contoh:
SbCl5 +
2HC CH→Cl3Sb(CH=CHCl)2
Reaksi Grignard
ditemukan oleh kimiawan Perancis Auguste Victor Grignard (1871-1935) di tahun
1901. Tahap awal reaksi adalah reaksi pembentukan metil magnesium iodida,
reagen Grignard, dari reaksi antara alkil halida (metil iodida dalam contoh di
bawah ini) dan magnesium dalam dietil eter kering.
CH3I + Mg –> CH3MgI
Anda pasti melihat
bahwa magnisium terikat langsung dengan karbon. Senyawa semacam ini yang sering
disebut sebagai reagen Grignard dengan ikatan C-logam dimasukkan dalam golongan
senyawa organologam. Ikatan C-logam sangat labil dan mudah menghasilkan
karbanion seperti CH3- setelah putusnya ikatan logam-karbon. Ion
karbanion cenderung menyerang atom karbon bermuatan positif. Telah dikenal luas
bahwa atom karbon gugus aldehida atau gugus keton bermuatan positif karena
berikatan dengan atom oksigen yang elektronegatif. Atom karbon ini akan
diserang oleh karbanion menghasilkan adduct yang akan menghasilkan alkohol
sekunder dari aldehida atau alkohol tersier dari keton setelah hidrolisis.
C6H5CHO + CH3MgI
–> C6H5CH(CH3)OMgI
Reaksi Grignard
adalah contoh reaksi senyawa organologam. Karena berbagai jenis aldehida dan
keton mudah didapat, berbagai senyawa organik dapat disintesis dengan bantuan
reaksi Grignard.
B. Organometallic
Additions
Terdapat 2 jenis reaksi adisi gugus karbonil
menjadi alkohol yang menggunakan reagen organologam, yaitu :
·
Reagen Organolithium (Me-Li)
Reagen organolithium
ditandai dengan ikatan C-Li. Lithium kurang elektronegatif daripada karbon
sehingga ikatan C-Li dapat terpolarisasi menjadi C- +Li.
Reagen organolithium lebih reaktif daripada organomagnesium halida (Grignard)
dan diharapkan bertindak sebagai nukleofil dan basa yang baik. Reaksi logam
lithium pada suhu rendah dengan alkil halida dalam pelarut hidrokarbon
menghasilkan alkil litium. Organolithium bereaksi dengan aldehid, keton dan
ester untuk menghasilkan alkohol sebagai suatu reaksi adisi. Salah satu
contohnya dengan menggunakan keton membentuk alkohol tersier (3°) :
Reaksi dengan : (1) Aldehida membentuk
alkohol sekunder (2°), (2) Keton membentuk alkohol tersier (3°) dan (3) Ester
membentuk keton.
·
Reagen Grignard (MeMg-X)
Reagen Grignard merupakan
senyawa alkil-/aril- Magnesium Halida dengan rumus umum RMg-X, dimana X adalah
halogen dan R adalah gugus alkil atau aril. Reagen Grignard sederhana yang umum
digunakan berupa CH3CH2MgBr.
Pada reaksi adisi
Nukleofilik oleh reagen Grignard, R bertindak sebagai nukleofil yang bermuatan
parsial negatif (R:- +MgX). Aldehida membentuk alkohol
sekunder (2°) pada reaksi dengan pereaksi Grignard dalam larutan eter.
Sedangkan keton membentuk alkohol tersier (3°). Pada reaksi Grignard, dimulai
dari kompleksasi asam-basa Mg2+ ke atom oksigen karbonil dari
aldehida atau keton, sehingga membuat gugus karbon karbonil menjadi Elektrofil
yang baik. Penambahan Nukleofil R:- menghasilkan intermediet
tetrahedral Magnesium Alkoksida (-OMgX). Protonasi menggunakan air atau asam
encer secara terpisah dapat menghasilkan alkohol netral. Adisi Grignard
memiliki irreversibel yang lebih efektif karena karbanion adalah leaving
group yang terlalu buruk sehingga sulit dilepaskan. Mekanisme reaksinya
sebagai berikut :
·
Alkylations
Reaksi alkilasi enolat dilakukan menggunakan alkil halida. Alkilasi terjadi
bila anion enolat (nukleofilik) bereaksi dengan alkil halida (elektrofilik) dan
memaksa lepasnya leaving group melalui mekanisme SN2. Reaksi dapat
terjadi pada atom oksigen enolat atau karbon alfa, tetapi secara normal terjadi
pada atom karbon.
·
Michael reactions
Reaksi Michael adalah reaksi adisi nukleofilik terhadap senyawa α,β-karbonil
tidak jenuh yang memiliki suatu ikatan rangkap dua yang elektrofilik secara
tidak biasa (akibat resonansi).
Saat karbon betanya
bersifat elektrofilik karena membagi muatan positifnya secara parsial ke karbon
karbonil melalui resonansi, maka terjadi serangan pada gugus karbonil. Selanjutnya
akan terjadi protonasi pada oksigen yang menyebabkan adanya adisi 1,2.
Sementara apabila serangan terjadi pada posisi beta, maka atom oksigen akan
bersifat nuklofilik, dan adisi yang terjadi adalah 1,4 adisi.
·
Carbonyl condensation reaction
Reaksi kondensasi adalah
reaksi antara dua molekul atau lebih yang bergabung menjadi satu molekul yang
lebih besar, dengan melepas satu atau tanpa hilangnya suatu molekul kecil
(seperti air).
Kondensasi aldol
adalah sebuah reaksi organik antara ion enolat dengan senyawa karbonil ,
membentuk β-hidroksialdehida atau β-hidroksiketon dan diikuti dengan dehidrasi,
menghasilkan sebuah enon terkonjugasi. Kondensasi aldol melibatkan adisi
nukleofilik dari sebuah enolat keton (nukleofil) ke sebuah karbon aldehida
(elektrofil) yang membentuk β-hidroksi keton atau sebuah "aldol"
(aldehida + alkohol).
Kondensasi Aldol mengalami
2 tahap : reaksi pembentukan karbanion (enolat keton) dan reaksi dehidrasi.
Terdapat 2 jalur reaksi yaitu menggunakan basa kuat (jalur enolat keton) dan
menggunakan katalis asam (jalur enol).
·
Asymmetric synthesis via enolates
Sintesis kiral juga disebut
sintesis asimetris, adalah sintesis yang mempertahankan atau memperkenalkan
kiralitas yang diinginkan. Pada prinsipnya, ada tiga metode yang berbeda untuk
menginduksi asimetri dalam reaksi. Ada dapat berupa satu atau beberapa pusat
stereogenik tertanam dalam merangsang kiralitas substrat dalam reaksi (kontrol
substrat) atau eksternal sumber menyediakan induksi kiral (kontrol reagen).
Dalam kedua kasus yang diperoleh Stereoselektivitas mencerminkan perbedaan
energi antara transisi diastereomerik dasar.
Contoh reaksinya yaitu pada
pembantu imida kiral seperti Evans 'N-acyloxazolidinones (1.43) yang digunakan
untuk alkilasi asimetris dan asimetrisaldol kondensasi (Skema 1.10) :
·
Ring-forming reactions
Reaksi pembentukan cincin
atau reaksi penutupan cincin dalam kimia organik adalah istilah untuk reaksi
yang memperkenalkan satu atau lebih cincin ke dalam molekul. Reaksi pembentukan
heterosiklik adalah reaksi yang memperkenalkan heterosiklik baru. Kelas-kelas
penting dari reaksi pembentukan cincin termasuk annotes dan sikloadisi. Beberapa
reaksi pembentukan cincin yaitu :
1) Azide-alkyne
Huisgen cycloaddition
2) Bischler–Napieralski
reaction
3) Bucherer
carbazole synthesis
4) Danheiser
annulation
5) Diels–Alder
reaction
6) Fischer
indole synthesisLarock indole synthesis
7) Paal–Knorr
synthesis
8) Pictet–Spengler
reaction
9) Pomeranz–Fritsch
reaction
10) Ring-closing
metathesis\Robinson annulation
·
Skraup reaction
The Diels–Alder
Cycloaddition Reaction. Diena terkonjugasi dapat mengalami reaksi adisi dengan
alkena menghasilkan produk sikloheksena tersubstitusi. Misalnya pada reaksi
adisi 1,3-butadiena dengan 3-buten-2-on yang membentuk 3-sikloheksenil metil
keton sebagai produk.
Contoh diatas merupakan
reaksi sikloadisi Diels–Alder karena membentuk dua ikatan karbon–karbon dalam
satu langkah untuk membuat molekul siklik. Mekanisme sikloadisi Diels-Alder
berbeda dari reaksi lain karena tidak bersifat polar maupun radikal.
Sebaliknya, reaksi Diels-Alder adalah proses perisiklik (reaksi yang
berlangsung dalam satu langkah melalui redistribusi siklik dari elektron
ikatan). Kedua reaktan hanya bergabung bersama melalui keadaan transisi siklik
di mana dua ikatan C-C baru terbentuk pada saat yang sama.
C.
Reaksi Organologam
1) Insertion Reaction
Reaksi penyisipan merupakan
suatu reaksi yang menyisipkan suatu molekul kedalam suatu senyawa organologam.
Molekul yang menyisip kedalam senyawa organologam ini dapat bertindak
sebagai 1,1 insertion dan 1,2 insertion, kedua hal
ini merupakan suatu acuan bagaimana molekul ini menyisipkan dirinya diantara
logam dan ligan senyawa organologam yaitu apakah menggunakan satu atom
untuk mengikat logam dan ligan (1,1 insertion) atau molekul tersebut
mempunyai dua atom yang satu mengikat logam sedangkan atom lain mengikat ligan
(1,2 insertion). Contoh reaksi insertion dapat
ditunjukan dari siklus reaksi dibawah ini (reaksi penyisipan di dalam kotak).
Pada reaksi diatas dapat dijelaskan bahwa senyawa HNi(CO)2Cl direaksikan dengan senyawa RCH=CH2 maka senyawa RCH=CH2 akan menyisip diantara logam dengan atom H. Reaksi ini merupakan 1,2 insertion, dimana ada dua atom C pada senyawa ini, satu atom C mengikat logam Ni dan atom C yang lain mengikat H, akibatnya ikatan rangkap pada molekul RCH=CH2 berubah menjadi tunggal karena elektronnya dipakai untuk mengikat logam dan atom H.
2) Carbonyl
Insertion (Alkyl Migration)
Reaksi
penyisipan karbonil pada dasarnya sama seperti penyisipan biasanya (1,1
insertion dan 1,2 insertion), tetapi yang membedakan
disini adalah yang masuk diantara logam dan ligan adalah molekul karbonil (CO).
Mekanisme reaksi dari penyisipan karbonil diusulkan ada tiga, yaitu penyisipan
secara langsung, migrasi karbonil, dan migrasi alkil. Dari ketiga usulan
mekanisme reaksi ini, dilakukan pengujian melalui eksperimental. Hasilnya
mekanisme penyisipan karbonil yang diterima atau sesuai hasil pengujian adalah
migrasi alkil. Jadi alkil bermigrasi dan terikat pada karbonil, tempat yang
ditinggalkan alkil tadi ditempati karbonil dari luar. Contoh dari penyisipan
karbonil diberikan pada siklus reaksi dibawah ini (dalam kotak):
Dari
kedua gambar diatas, dapat dijelaskan bahwa reaksi penyisipan karbonil seperti
dijelaskan pada pengantar singkat reaksi penyisipan karbonil diatas, mekanisme
reaksinya adalah migrasi alkil. Pada gambar diatas ditunjukkan bahwa CH2CH2R
bermigrasi ke CO, tempat kosong pada logam yang ditinggalkan alkil tersebut
selanjutnya diisi oleh CO dari luar.
Bernardi,
F., Bottoni, A., Nicastro, N., and Rossi, I., 2000, Theoretical Study of
the Mechanism of Carbonyl Insertion Reactions Catalyzed by Nickel
Complexes, Organometallic 19: 2170-2178
3) Hydride
Elimination
Reaksi eliminasi hidrida ini yang sering
ditemui adalah reaksi β-elimination yang merupakan suatu reaksi transfer atom H
pada suatu ligan alkil (pada ligan posisi β terhadap logam) ke logam. Reaksi
ini dapat menyebabkan meningkatnya bilangan oksidasi dan bilangan koordinasi
dari logam. Proses transfer atom H pada alkil posisi β ini terjadi apabila
posisi logam, carbon α, karbon β, dan hidrida koplanar. Contoh reaksi ini
adalah pada siklus Wacker. Pada siklus ini terdapat reaksi β-hibrid-eliminasi
(dalam kotak).
Pada
reaksi diatas dinamakan reaksi β-hidrid-eliminasi karena pada molekul
A, atom H yang terikat pada atom O (pada gugus OH posisi β terhadap
logam), ditransfer menuju ke logam Pd. Pada contoh reaksi ini ternyata
reaksi β-hidrid-eliminasi tidak hanya atom H milik alkil posisi β, tetapi dapat
juga dari atom H dari gugus hidroksil (OH) pada posisi β. Atom H yang
ditransfer ke logam Pd menyebabkan bilangan koordinasi logam Pd bertambah dari
dua menjadi tiga. Hasil akhir dari reaksi ini adalah terbentuknya molekul B.
4.
Abstraction Reaction
Reaksi
abstraksi merupakan suatu reaksi eliminasi ligan yang tidak akan merubah
bilangan koordinasi logam. Reaksi ini berkaitan dengan pembuangan substituent
pada ligan dengan posisi karbon α dan β terhadap logam. Pembuangan substituent
pada ligan ini dapat terjadi karena pengaruh suatu reagen eksternal. Contoh
dari reaksi ini adalah:
Pada
reaksi diatas (dalam kotak) disebut sebagai reaksi abstraksi dikarenakan
terjadi pembuangan substituent yaitu atom H pada ligan η4-5-exo-RC5H5 (tetrahapto)
yang disebabkan oleh reagen Ph3CPF6. Dari hasil
pembuangan atom H ini, maka ligan η4-5-exo-RC5H5 berubah
menjadi η5-RC5H4. Bilangan koordinasi logam
pada reaksi ini tidak berubah, tetapi bilangan oksidasi logam Fe berubah dari
Fe(0) menjadi Fe(II).
PERTANYAAN
:
1. Mengapa reagen
organolithium lebih reaktif daripada organomagnesium halida?
2. Bagaimana pada reaksi adisi
nukleofilik antara reagen organolithium dengan ester menghasilkan produk berupa
keton?
Saya akan menjawab permasalahan pertama Reagen organolithium ditandai dengan ikatan C-Li. Lithium kurang elektronegatif daripada karbon sehingga ikatan C-Li dapat terpolarisasi menjadi C- +Li. Reagen organolithium lebih reaktif daripada organomagnesium halida (Grignard) dan diharapkan bertindak sebagai nukleofil dan basa yang baik. Reaksi logam lithium pada suhu rendah dengan alkil halida dalam pelarut hidrokarbon menghasilkan alkil litium. Organolithium bereaksi dengan aldehid, keton dan ester untuk menghasilkan alkohol sebagai suatu reaksi adisi. Salah satu contohnya dengan menggunakan keton membentuk alkohol tersier
ReplyDeleteSaya akan menjawab permasalahan 2. Reagen organolithium yang mengandung ikatan R-Li akan terikat dengan karbon karbonil dari ester (R’-CO-O-R”) yang menyebabkan desakan sehingga gugus –O-R” (good leaving group) yang akan terlepas dan membentuk ikatan baru R’-CO-R (keton).
ReplyDeleteSaya akan menjawab pertanyaan 2
ReplyDeleteReagen organolithium lebih reaktif daripada organomagnesium halida (Grignard) dapat diharapkan bertindak sebagai nukleofil dan basa yang baik. Reaksi logam lithium pada suhu rendah dengan alkil halida dalam pelarut hidrokarbon menghasilkan alkil litium. Organolithium bereaksi dengan aldehid, keton dan ester untuk menghasilkan alkohol sebagai suatu reaksi adisi. Dan juga Dibandingkan dengan halida organomagnesium, organolithiums kurang rentan untuk faktor sterik dan bereaksi dengan keton yang terhalang untuk memberikan alkohol tersier
Dari nomor 1.
ReplyDeleteOrganolithium reagen juga lebih unggul daripada reagen Grignard dalam kemampuannya untuk bereaksi dengan asam karboksilat untuk membentuk keton. Reaksi ini dapat dioptimalkan dengan hati-hati mengontrol jumlah penambahan reagen organolitium, atau menggunakan trimethylsilyl chloride untuk memuaskan pereaksi lithium berlebih. Cara yang lebih umum untuk mensintesis keton adalah melalui penambahan reagen organolitium ke Weinreb amides (N-methoxy-N-methyl amides). Reaksi ini menghasilkan keton ketika pereaksi organolithium digunakan secara berlebihan, karena chelation ion litium antara oksigen N-metoksi dan oksigen karbonil, yang membentuk intermediet tetrahedral yang runtuh pada kerja asam.
Baiklah says Alan Mencius menjawab permasalahan yang pertama yaitu Organolithium reagen juga lebih unggul daripada reagen Grignard dalam kemampuannya untuk bereaksi dengan asam karboksilat untuk membentuk keton. Reaksi ini dapat dioptimalkan dengan hati-hati mengontrol jumlah penambahan reagen organolitium, atau menggunakan trimethylsilyl chloride untuk memuaskan pereaksi lithium berlebih. Cara yang lebih umum untuk mensintesis keton adalah melalui penambahan reagen organolitium ke Weinreb amides (N-methoxy-N-methyl amides). Reaksi ini menghasilkan keton ketika pereaksi organolithium digunakan secara berlebihan, karena chelation ion litium antara oksigen N-metoksi dan oksigen karbonil, yang membentuk intermediet tetrahedral yang runtuh pada kerja asam.
ReplyDeleteReagen organolithium ditandai dengan ikatan C-Li. Lithium kurang elektronegatif daripada karbon sehingga ikatan C-Li dapat terpolarisasi menjadi C- +Li. Reagen organolithium lebih reaktif daripada organomagnesium halida (Grignard) dan diharapkan bertindak sebagai nukleofil dan basa yang baik. Reaksi logam lithium pada suhu rendah dengan alkil halida dalam pelarut hidrokarbon menghasilkan alkil litium. Organolithium bereaksi dengan aldehid, keton dan ester untuk menghasilkan alkohol sebagai suatu reaksi adisi. Salah satu contohnya dengan menggunakan keton membentuk alkohol tersier
Lithium kurang elektronegatif daripada karbon sehingga ikatan C-Li dapat terpolarisasi menjadi C- +Li. Reagen organolithium lebih reaktif daripada organomagnesium halida (Grignard) dan diharapkan bertindak sebagai nukleofil dan basa yang baik. Reaksi logam lithium pada suhu rendah dengan alkil halida dalam pelarut hidrokarbon menghasilkan alkil litium. Organolithium bereaksi dengan aldehid, keton dan ester untuk menghasilkan alkohol sebagai suatu reaksi adisi.
ReplyDeleteNo 1
ReplyDeleteReagen organolithium lebih reaktif daripada organomagnesium halida (Grignard) dan diharapkan bertindak sebagai nukleofil dan basa yang baik. Reaksi logam lithium pada suhu rendah dengan alkil halida dalam pelarut hidrokarbon menghasilkan alkil litium. Organolithium bereaksi dengan aldehid, keton dan ester untuk menghasilkan alkohol sebagai suatu reaksi adisi
Saya akan menjawab permasalahan 2.
ReplyDeleteReaksi logam lithium pada suhu rendah dengan alkil halida dalam pelarut hidrokarbon menghasilkan alkil litium. Organolithium bereaksi dengan aldehid, keton dan ester untuk menghasilkan alkohol sebagai suatu reaksi adisi. Dan juga Dibandingkan dengan halida organomagnesium, organolithiums kurang rentan untuk faktor sterik dan bereaksi dengan keton yang terhalang untuk memberikan alkohol tersier. Reagen organolithium lebih reaktif daripada
Organomagnesium halida (Grignard) dapat diharapkan bertindak sebagai nukleofil dan basa yang baik. Reagen organolithium yang mengandung ikatan R-Li akan terikat dengan karbon karbonil dari ester (R’-CO-O-R”) yang menyebabkan desakan sehingga gugus –O-R” (good leaving group) yang akan terlepas dan membentuk ikatan baru R’-CO-R (keton)
Saya akan menjawab permasalahan pertama Reagen organolithium ditandai dengan ikatan C-Li. Lithium kurang elektronegatif daripada karbon sehingga ikatan C-Li dapat terpolarisasi menjadi C- +Li. Reagen organolithium lebih reaktif daripada organomagnesium halida (Grignard) dan diharapkan bertindak sebagai nukleofil dan basa yang baik.
ReplyDeleteSaya akan menjawab permasalahan pertama Reagen organolithium ditandai dengan ikatan C-Li. Lithium kurang elektronegatif daripada karbon sehingga ikatan C-Li dapat terpolarisasi menjadi C- +Li. Reagen organolithium lebih reaktif daripada organomagnesium halida (Grignard) dan diharapkan bertindak sebagai nukleofil dan basa yang baik.
ReplyDeleteReagen organolithium lebih reaktif daripada organomagnesium halida (Grignard) dan diharapkan bertindak sebagai nukleofil dan basa yang baik. Reaksi logam lithium pada suhu rendah dengan alkil halida dalam pelarut hidrokarbon menghasilkan alkil litium. Organolithium bereaksi dengan aldehid, keton dan ester untuk menghasilkan alkohol sebagai suatu reaksi adisi
ReplyDeleteSaya akan menjawab pertanyaan 2
ReplyDeleteReagen organolithium lebih reaktif daripada organomagnesium halida (Grignard) dapat diharapkan bertindak sebagai nukleofil dan basa yang baik. Reaksi logam lithium pada suhu rendah dengan alkil halida dalam pelarut hidrokarbon menghasilkan alkil litium. Organolithium bereaksi dengan aldehid, keton dan ester untuk menghasilkan alkohol sebagai suatu reaksi adisi. Dan juga Dibandingkan dengan halida organomagnesium, organolithiums kurang rentan untuk faktor sterik dan bereaksi dengan keton yang terhalang untuk memberikan alkohol tersier
Reagen organolithium lebih reaktif daripada organomagnesium halida (Grignard) dan diharapkan bertindak sebagai nukleofil dan basa yang baik. Reaksi logam lithium pada suhu rendah dengan alkil halida dalam pelarut hidrokarbon menghasilkan alkil litium. Organolithium bereaksi dengan aldehid, keton dan ester untuk menghasilkan alkohol sebagai suatu reaksi adisi.
ReplyDeletejawaban permasalahan no 1
ReplyDeleteOrganolithium reagen juga lebih unggul daripada reagen Grignard dalam kemampuannya untuk bereaksi dengan asam karboksilat untuk membentuk keton. Reaksi ini dapat dioptimalkan dengan hati-hati mengontrol jumlah penambahan reagen organolitium, atau menggunakan trimethylsilyl chloride untuk memuaskan pereaksi lithium berlebih. Cara yang lebih umum untuk mensintesis keton adalah melalui penambahan reagen organolitium ke Weinreb amides (N-methoxy-N-methyl amides). Reaksi ini menghasilkan keton ketika pereaksi organolithium digunakan secara berlebihan, karena chelation ion litium antara oksigen N-metoksi dan oksigen karbonil, yang membentuk intermediet tetrahedral yang runtuh pada kerja asam.